PANGGUNG politik lokal Aceh kembali menjadi ramai, jika tak elok disebut gaduh. Ini terkait munculnya nama Muslim, anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat dari Daerah Pemilihan (Dapil) Aceh-2, sebagai calon Ketua Partai Demokrat Aceh, mengantikan Nova Iriansyah, yang masih memiliki sisa waktu kurang dari setahun duduk di kursi Gubernur Aceh.
Ini memang bukan tanpa sebab. Nama Muslim digadang-gadang 14 dari 23, Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Demokrat se-Aceh, untuk mengantikan kursi empuk Nova. Dan bukan mustahil, pada akhirnya akan bermuara pada kesepakatan bersama atau aklamasi!
Sebelumnya, nama Nova Iriansyah justru mencuat dan menguat sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Aceh. Jamak terjadi, posisi tersebut dengan mudah bisa diraih, karena posisinya sebagai incumbent serta masih berkuasa sebagai orang nomor satu Aceh.
Begitupun, harapan tadi akhirnya pupus, setelah 13 DPC PD di Aceh yang dimotori HT. Ibrahim (Ketua DPC PD Aceh Besar) serta Arif Fadillah (Ketua DPC PD Kota Banda Aceh), melakukan gerakan “kudeta” terhadap Nova. Dia sadar dan akhirnya “menyerah” serta mengaku tak maju kembali.
Entah pengakuan ini benar atau sekedar trik dan klik yang dimainkan Nova, itu lain soal. Sebab, jika strategi ini benar-benar dilakukan Nova, maka dapat dipastikan; terlalu besar resiko yang harus dihadapi suami dengan dua istri ini. Ibarat pepatah, Nova yang menabur angin, dia pun (mungkin) pantas menuai badai.
Memang harus diakui. Selama ini, komunikasi politik Nova di internal maupun eksternal Partai Demokrat Aceh maupun parpol lain serta para ulama dan elemen sipil Aceh lainnya, cenderung melahirkan kegaduhan dan memantik ragam pandangan. Termasuk dengan parlemen Aceh (DPRA) sehingga memunculkan interpelasi untuk dirinya.
Gerakan politik yang dilakukan Nova bisa dimaknai dalam dua konteks. Pertama, ini merupakan bagian dari mekanisme mempertahankan dirinya sebagai Ketua Partai Demokrat Aceh.
Dalam banyak kesempatan, seolah-olah, Nova ingin mengirim pesan dengan menunjukkan kegundahannya sebagai nakhoda Partai Demokrat Aceh, sehingga memunculkan gerakan politik yang mengarah kepada upaya pengambilalihan kepemimpinannya secara paksa.
Tapi di sisi lain. Ada kalanya Nova mengeluarkan pernyataan yang menyerang publik dan lawan politik. Ini pun bisa dimaknai sebagai upaya melindungi dirinya tadi dan strategi meraih simpati bahwa dia telah menjadi korban; fitnah!
Bisa jadi, Nova berharap skenario faksi-faksi di internal Partai Demokrat Aceh dan eksternal, dapat dan mampu diredam. Karena itu, dalam banyak kesempatan, dia cenderung bergerakkan senyap melalui jejaring antar pribadi dan organisasi di Aceh. Lalu, dia dorong muncul ke permukaan.
Itu sebabnya, beberapa pernyataan yang menyerang, baik dilakukan sendiri maupun atas jasa buzzer dan tim penasihat khusus (pensus) melalui publikasi media berbayar, menjadi cara Nova untuk membawa pertarungan di bilik yang senyap menuju pergumulan opini publik yang multikanal.
Cara seperti ini mengingatkan langgam komunikasi politik Nova di awal kepemimpinnya atau paska Irwandi Yusuf diciduk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia tampil penuh pesona dann pencitraan.
Muhammad Saleh, Pimpinan Redaksi Media Siber MODUSACEH.CO bersama Presiden Ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). (Foto: dok. MODUSACEH.CO)
Kedua, memainkan manajemen isu. Khususnya, yang terhubung dengan meresonansikan persoalan yang dihadapinya menjadi publisitas politik. Bayangkan saja, suka atau tidak, berbagai pernyataan dan kebijakan tak populis Nova, kemudian diulas media berbayar tadi dengan sangat indah. Termasuk jejaring media sosial yang ikut meramaikan polemik ini.
Hasilnya, drama politik yang tadinya bersifat internal kemudian mampu disajikan ke atas panggung terdepan. Lalu dibumbui dengan diksi dan narasi menyentak seperti; ada oknum Kepala Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA) yang tidak loyal (lihat kasus anggaran apendix pada APBA 2021) sehingga Kepala BPBA Bustami Hamzah terpaksa mundur atau lempar handuk.
Kesan yang ingin dimunculkan adalah, betapa gentingnya persoalan yang dihadapi Nova sebagai nakhoda Ketua Partai Demokrat Aceh. Jika kita tempatkan narasi kudeta di tubuh Partai Demokrat dari sisi pengelolaan partai, tampaknya ini memang menjadi semacam gelembung isu yang sengaja ditiupkan Nova Iriansyah.
Sumber : Modusaceh.co

